Latest Entries »

Lembutkan hatimu untukNya

Ade sudah cenderung menampakkan kekerasan hatinya di usia 7 tahun ini. Hal itu terlihat jika dia mulai menolak dan tidak suka dengan suatu keadaan.
Dengan suara keras, dia berteriak dan mengeraskan tubuhnya. Biarpun mamie membujuknya.

Ah sayang…
Mamie kuatir jika kebiasaan ini diteruskan. Mamie jadi berpikir mungkin inilah yang dikatakan sakit jika sakratul maut datang menjemput dan kita menolak untuk menyambutnya.

Masuk di akal jika ada tarik menarik dari dua sisi yang berbeda, pastilah tenaga yg digunakan sangat besar, tapi mampukah kita menolak kepastian itu?

Muslim, artinya berserah diri. Mamie belajar untuk bisa melakukan itu melalui setiap waktu dengan mengingatnya.
Dan segala puji bagi Allah, Rasulullah saw, sudah mengajarkan kita untuk bagaimana ‘melembutkan’ kekerasan hati kita dengan berdzikir.

Dzikir membuat kita mengingat menyadari tentang kebesaran Allah, Maha Kuasa dan Maha Penyayang. Dan sudah pasti jika kita mempercayai dan meyakini hal tersebut, kita tidak akan ragu ‘menyerahkan diri’ kita pada saatnya

Seperti kita jatuh cinta, rela bersama kekasih hati kemana pun dia membawa kita pergi. Percaya dan yakin. Hal dimana juga mamie berpikir untuk ‘mengeluarkan’ kekasih dunia dari dalam hati. Tempat yang seharusnya diperuntukkan hanya kepadaNya.

Ya Allah aku tidak akan berhenti mengetuk pintuMu hanya untuk bertemu dan bersamaMu

Lembutkan hatimu anakku, kita bukan siapa2 tanpa Sang Pencipta. Berdoalah selalu agar diberi rahmatNya. Amin

Mengapa harus menikah?

Màmiê ingat candaan sohib màmiê, iccang yang sekarang sudah menetap di Jepang. Orangnya memang lucu dan kocak, dan selalu melihat kehidupan dari sisi homor.

“Perkawinan adalah situasi dimana orang berebut masuk di dalamnya dan setelah di dalam orang pun berebut untuk keluar” begitu katanya sambil menggoda

Yah memang sih kalau dilihat keadaan sekarang dimana perkawinan rata-rata menjadi ajang coba-coba. Kawin cerai sudah bukan aib lagi. Cerai pun kadang cukup dengan alasan “tidak ada kecocokan lagi”. Beberapa kali malah màmiê dalam menjalani perkawinan juga mengalami titik kritis, tetapi alhamdulillah hingga kini masih bisa bertahan sebagai keluarga.

Ketidakcocokan harusnya bukan sebagai alasan untuk bercerai. Karena sulit bagi kita untuk mencocokkan dua pribadi yang berbeda.

Terbetik di pikiran màmiê kenapa kita dianjurkan untuk menikah. Pada saat sendiri memang terasa nikmat. Banyak hal yang bisa kita lakukan berdasarkan kesukaan kita sendiri. Ngatur waktu sendiri berbuat sesuatunya sendiri dan tidak ada yang keberatan atau memberatkan. Tetapi apakah itu baik?

Bagi yang menikmati itu pastilah merasakan “enjoy” tetapi pernah kah kepikiran bahwa kesendirian memicu egoisme kita? Kesendirian jarang akan membawa kita pada keadaan dimana kita harus melayani, bersabar dan bertahan.

Formula yang màmiê pikirkan sebagai berikut:

Sendiri = kesabaran 0%
Menikah = kesabaran 50% (berlaku bagi suami dan istri)
Anak 1 = kesabaran 75%
Anak 2 = kesabaran 87%
Dst…

Semakin banyak anggota keluarga semakin kita menyisihkan kepentingan diri sendiri. Dan itu adalah kesempatan untuk belajar bersabar dan menekan kepentingan diri diatas kepentingan keluarga.

Kenapa berhikmat/melayani itu sangat dibutuhkan dalam perkawinan? Karena itu melatih kesabaran. Perkawinan adalah ajang latihan untuk dirisendiri, menekan keegoisan untuk bersabar.

Beberapa kali pernah màmiê berpikir.. Ah enaknya kalau sendiri bisa kesana kemari tanpa ada yg melarang atau marah. Suka-suka hati ini. Sekarang màmiê baru menyadari bahwa itulah hidup yang kita alami untuk latihan diri

Semakin besar ketidakcocokan semakin ekstra kesabaran dibutuhkan. Dan itu adalah pelajaran menuju hidup yg diberkahi oleh Allah.

Seperti saat ini màmiê membiasakan diri untuk ditinggal sendiri dan bertanggung jawab dengan anak-anak, dimana suami keluar untuk belajar agama dengan bergabung dalam jamaah tabligh

Kesabaran ekstra dari diri dan lingkungan, harus màmiê jalani. Namun màmiê yakin, Allah tidak akan membiarkan màmiê sendiri. Karena memang màmiê sudah merasakan manfaatnya dimana suami telah mengabdikan diri untuk kepentingan seluruh umat menghidupkan sunnah-sunnah Nabi dan mengajak saudara-saudara seiman untuk Insya Allah menuju jalan kebahagiaan di hari kemudian. Amin

Semoga màmiê diberi kesabaran dalam menjalankan hidup perkawinan ini. Amin.

Suatu ungkapan yang unik menurut mamie, tapi itu terbetik tiba-tiba di kepala ketika, seorang sahabat menanyakan mamie tentang rencana besar yang ada dalam kepala mamie.

Mungkin, jika pertanyaan ini disampaikan pada mamie beberapa waktu yang lalu, pasti mamie menyebutkan hal-hal yang berkenaan dengan rencana masa depan, mungkin akan menjadi point-point yang banyak dan tak terhitung jumlahnya. 😀
Namanya juga keinginan, manusia tidak akan lepas dari itu jika masih bernapas, masih punya napsu, masih berkeliaran di dunia.

Dengan terkejut dia berkata kembali ke mamie, “are you sure? think twice mamie!!!”, hmm.. sebegitu pentingkah rencana itu?

Dua hari yang lalu mamie tidak seperti biasanya, dengan apik menyusun rencana kegiatan harian yang mamie isi sampai seminggu. Padat sekali kelihatannya, sampai-sampai belum waktunya pun mamie sudah merasa capek..:D
Pikiran yang dipenuhi dengan rencana itu ternyata sangat memberatkan. Walaupun bagi kita rencana tersebut baik adanya. Rencana yang mamie sudah atur dengan apik, pastilah membuat pelaksanaannya lebih mudah. Begitukan?

Tapi jawabnya tidak! Ternyata apa yang mamie rencanakan sama sekali bukan hal yang sangat mudah dilaksanakan. Padahal sudah susah juga dipikirkan yah. hehehe

Ada suatu kekuatan yang selama ini kita lupakan. Sebaik-baiknya rencana yang kita atur, pernahkah kita menyadari bahwa sedetik kedepan kita tidak pernah akan tahu apa yang akan terjadi?

Alasan itu yang membuat mamie merasa nyaman jika tidak punya rencana. Tidak punya rencana bukan juga berarti mamie tidak punya bayangan terhadap hari esok dan hari-hari selanjutnya. Tetapi treatment terhadap rencana itu sudah beda.

Sekali mamie berpikir untuk rencana besok, mamie dalam hati cuman bisa berucap Insya Allah. Yah..memang semua atas izin Allah. Kita semua gak bisa menduga sedetik kedepan dari hidup kita akan terjadi apa. Malahan dengan berpikir seperti itu, akhir-akhir ini mamie selalu menyadari saat bernapas. Hal yang selama ini terabaikan, dan tidak kita sadari.
Hidup kita bisa diambil dalam hitungan detik, sementara detik itu sendiri tidak bisa kita nikmati akibat fokus yang kita buat sendiri seakan kita yakin bahwa besok kita pasti masih hidup.

Jadi rencana terbesar mamie sekarang ini adalah dengan meniadakan rencana. Rencana yang kadang baru dipikir saja sudah memberatkan apalagi saat dilaksanakan. Kadang kita merasa, “kita” yang bekerja padahal semua itu sudah pastilah atas petunjuk dan ridhoNya. Lalu kenapa kita harus susah? kenapa harus pusing?

Apa yang kita bisa rasakan detik ini adalah suatu karunia yang tidak akan kita peroleh nanti di detik selanjutnya. Waktu berjalan tanpa bisa dihentikan, masihkah kita mengabaikan itu? mengabaikan rasa syukur atas hidup sedetik yang kita miliki ini?

Semoga kita semua diberi petunjuk

Jika waktu itu tiba…

Tak ada yang bisa menduga, kapan ajal itu akan tiba. Sepagi ini teman datang ke rumah dan memberitahukan bahwa kak Taju, seorang yang mamie kenal telah berpulang ke hadirat Allah SWT

Tidak ada perencanaan, tidak ada perkiraan, semuanya terjadi bagi kita secara tiba-tiba. Semalam yang katanya masih sempat membuat acara di rumahnya dalam perjalanan ke makassar, mobil yg ditumpangi terguling. Hanya alm sendiri yang meninggal karena sementara tertidur di mobil. 2 orang lainnya karena masih dalam kesadaran mungkin masih bisa refleks melindungi bagian-bagian vital tubuhnya.

Dalam tidur bisa dipanggil, dalam duduk dan berdiripun bisa. Sementara kita tak pernah henti berada dalam posisi itu tapi apakah kita siap?

Waktu yang bagi kita itu tiba-tiba sudah pastilah bagi Allah adalah telah direncanakan, telah digariskan.
Hal yang menakutkan karena ditengah ketidaktahuan kita masih saja kita tidak waspada. Masih saja berpikir tentang dunia. Tentang kesenangan materi yang pada saatnya tiba kita akan meninggalkan semuanya itu. Bahkan jasad pun ditinggalkan.

Tidak ada kekuatan dari kita untuk bisa menghalau semuanya itu, hanya bisa berdoa bermohon kepada Allah yang Maha Pengasih. Semoga jika tiba waktunya, tiba saat yang tak ada kompromi itu, kita bisa lulus ujian, mengembalikan milik Allah yang ada dalam diri kita dengan murni dan tak ternoda.
Semoga kita semua diberi petunjuk oleh Allah yang Maha Penyayang.

Innalillahi wa innailahirojiun
Semoga kak Taju tenang disisiNya, kembali padaNya dalam kemurnianNya. Dan semoga kita senantiasa diberi petunjuk, diberi rahmat agar selalu menjaga milikNya yang murni ini. Insya Allah .. Amin

Takut Miskin

Mamie ingat moment itu, disaat mamie bicara dengan mama bahwa sudah bulat tekad mamie untuk memeluk agama Islam dan menjalankan syariat2nya. Mama yang sangat pengertian, walaupun memeluk agama yg lain tidak menolak. Mama bilang itu adalah hak mamie dan yang mana menurut mamie benar silahkan dijalankan. Tapi ada satu pesan yang membekas saat itu, kata mama “kamu harus siap-siap menjadi miskin yah!”. Mama pasti tidak asal bicara, ini menurut pengamatannya, di keluarga-keluarganya yang juga ada yang muallaf dan berubah dari kehidupan yang penuh gelimang harta menjadi miskin papa.
Kaget juga mamie mendengar pernyataan itu. Sebagai seorang yang merasa masih butuh makan dan minum, sedikit kesenangan materi untuk menjalani kehidupan pernyataan ini sangat membuat mamie kaget.

Namun sekarang mamie menyadari, betapa kasih sayang Allah yang sangat tak terbatas. Setelah menunjukkan jalan untuk mamie bisa menjalani hidup dengan tenang melalui ajaran yg diberikan oleh Rasulullah saw, Allah memberi pencerahan pemikiran dan pemahaman mengenai dunia.

Sesungguhnya setan itu nyata, setan yang selama ini berkedok manis dan cantik, kesenangan yang tiada habisnya namun hampa. Setan yang berbentuk materi yang memancing napsu kita untuk berpesta pora menyia-nyiakannya membuang tanpa hasil

Harta yang menjadi keagungan dunia memang sudah banyak membutakan manusia, dan kadang kala masuk sampai ke hati yang seharusnya dijaga kesuciannya sebagai tempat Allah dalam diri kita. Seakan malah menggeser kedudukanNya menggeser tahtaNya.

Mamie tidak pernah menyalahkan mama dengan anggapan seperti itu karena mama melihat dari luar, tidak merasakannya.
Sungguh suatu kenikmatan jika kita bisa hidup berkecukupan, kecukupan yang datang dari Allah.

Betapa kita memang menzalimi diri kita dengan mengejar dunia yang telah dijadikan alat oleh setan untuk mengalihkan perhatian kita kepada Allah.

Mamie sudah pernah merasakan hal dimana mamie mengejar dunia. Pagi hingga petang tiada waktu untuk bisa mensyukuri nikmatNya. Hasil yg diperoleh banyak menurut manusia namun hilang menguap beserta kesenangan-kesenangan semu. Betapa bodohnya kita, menyia nyiakan waktu bersusah payah untuk hal-hal yang semu. Tiada yg lebih indah dan menenangkan dari menikmati hidup apa adanya yang diberikan Allah dan berbagi memberi manfaat kepada ciptaanNya yang lain.

Kicauan burung sebelumnya tidak pernah menarik perhatian mamie, sekarang terdengar indahnya jika dinikmati sambil memikirkan kebesaranNya.
Takutkah mamie jadi orang miskin menurut anggapan manusia?
Insya Allah tidak! Karena miskin dihadapan manusia bisa berarti kaya dihadapan Allah.

Mensyukuri nikmat hari ini, mensyukuri napas yang diberikan, pandangan dan pendengaran yang dikaruniakan. Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh sekalian alam. Ampunilah kami yang telah menzalimi diri sendiri, tidak menyadari kekayaan yang Engkau berikan dan nyata bagi kami, bahkan memburu sesuatu yang semu yang pastinya suatu waktu akan mengecewakan dan merusak diri kami sendiri.

Ya Allah ampuni kami yang telah menzolimi diri kami sendiri

Create a free website or blog at WordPress.com.
[ Back to top ]